
Selasa, 10 April 2012
Harus Apa Denganmu
Selalu salah di depanmu
Harus apa yang ku lakukan
Biar semua menjadi indah
Aku yang tak bisa memahami
Keinginanmu harus ku mengerti
Begini salah begitu salah semua salah
Andai aku bisa memahami
Apa yang kau inginkan harus ku ikuti
Begini salah begitu salah semua salah
Sabtu, 17 Maret 2012
Tak Membohongiumu
Mengapa kau meninggalkanku
Ternyata kamu selingkuh
Selingkuh dibelakangku
Lalu apa kau memanggilku
Tiba-tiba kau minta maaf padaku
Aku ingin engkau pergi
Dalam hidupku tanpa dirimu
Tapi ku tak rela
Meninggalkan dirimu sayang
Mengapa kau menjahuiku
Mengapa kau meninggalkanku
Ternyata kamu selingkuh
Selingkuh dibelakangku
Lalu apa kau memanggilku
Tiba-tiba kau minta maaf padaku
Aku ingin engkau pergi
Dalam hidupku tanpa dirimu
Tapi ku tak rela
Meninggalkan dirimu sayang
Sabtu, 10 Maret 2012
Aishiteru
janji hanya tinggal janji
sakit hati yang ku rasa
sekian lama ku menunggu
saat-saat ku bersamamu
dan kini aku kembali
siksa menanggung rindu
semua sia-sia
aishiteru bukti cinta untukmu
namun yang ku beri tak pernah kau hargai
demi cinta kita ku korbankan segalanya
semua yang kita lewati selalu ada dalam ingatan
cinta memang penuh misteri
tiada yang tahu artinya
seperti yang aku rasakan
selalu ingin di dekatmu
dan buat engkau tersenyum
namun tangis yang ku dapat
siksa menanggung rindu
semua sia-sia
ai ai aishiteru bukti cinta untukmu
namun yang ku beri tak pernah kau hargai lagi
demi cinta kita ku korbankan segalanya
semua yang kita lewati selalu ada dalam ingatan, aishiteru
jiwa ini tlah pergi bersama semua kenangan
hampa hidup di dalam luka
ai ai aishiteru bukti cinta untukmu
namun yang ku beri tak pernah kau hargai lagi
demi cinta kita ku korbankan segalanya
semua yang kita lewati selalu ada dalam ingatan, aishiteru
Minggu, 04 Desember 2011
Untukmu Calon Imamku yang Tertulis Di Lauhul Mahfudz
Wahai kau pasangan tulang rusukku
Siapa n dimanakah kau aku menunggu
Saat khitbah kau nyatakan padaku
Kuharap saat itu indah dalam penantianku
Aku hanyalah sebutir pasir dihamparan luas
Dilahiran dengan suka cita
Dibesarkan dalam kasih keluarga
Dengan harapan suatu saat aku bisa bahagia
Menemukan kekasih sejati yang memberikan cinta
Mengasihi dengan tulus apa adanya
Wahai kau pasangan tulang rusukku
Harapan tulus kuhatur untukmu
Semoga kau bisa berikan semua tu
Menjadikanku insan bahagia dengan kasihmu
Membuatku dekat pada Illahi Robbi ku
Selalu merindukan kehadiranmu
Tuk beribadah bersama dalam naungan kasih sayangmu
Menciptakan istana tahajud dalam sujud panjang bersamamu
Menggapai kerido'an dan surga Illahi Robbi ku
Saat janji indah sehidup semati kau ucap untukku
Disaat kau halalkan aku bagimu
Semoga saat tu adalah awal pengabdianku
Menjadi makmum yang sholeha bagimu
Mengabdikan diri sepenuh jiwaku
Berjuang bersama menegakkan panji islam itu tekadku
Kau adalah yang terindah bagiku
Segala ucapanmu adalah sebuah titah bagiku
Selama itu baik dalam syari'atku
Dengan ikhlas aku akan jalani n menjujung tinggi perintahmu
Bersama arungi bahtera kehidupan baru
Menciptakan keluarga sakinah mawardah warrohmah n barokah
Menjadi madrasah indah bagi buah hati kita
Membentuk mujahid n mujahidah
Yang ditangannya ada semangat jihad
Menegakkan panji-panji islam
Berjuang dengan hati n jiwanya sebagai syuhada'
Dengan balutan kasih sayang yang indah
Dengan keterbatasan yang ada padaku
Kau hadir sebagai penyempurnaku
Rengkuh aku dalam kasihmu saat aku berada dalam kelemahanku
Ketika amarah merajai hidupku
Jadikan dirimu penyejuk hati dengan senyuman tulus n perhatianmu
Bimbing aku dengan kasih lembut mu
Agar dunia ini selalu indah bersamamu
Aku adalah tulang rusuk yang bengkok
Akan tetap bengkok jika kau biarkan itu
Akan patah jika kau paksa luruskan aku
Hanya kasih lembutmu yang bisa lakukan itu
Karena kau adalah nahkoda bagiku
Ku hanya ingin gapai keridhoanmu wahai pasangan tulang rusukku
Karena ridhomu adalah ridho Illahi Robbii ku
Kala ikhlasmu menghantarkanku ke surga itu
Saat diri ini menutup mata meninggalkanmu
Untaian do'a kan senyuman ikhlas kan mengantarkanku
Karena kau adalah kunci surga itu.
Untukmu Calon Imamku yang Tertulis Di Lauhul Mahfudz https://www.facebook.com/
Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Wanita Sholehah Idaman Lelaki Sholeh.https://www.facebook.com/
♥SALAM SANTUN UKHUWAH♥
Semoga apa yang telah disampaikan ini ada manfaatnya,
Bila ada salah lisan tak bermakna mohon dimaafkan yang benar itu pasti datangnya dari Allah S.W.T dan yang salah itu datangnya dari kelemahan diri ana pula.
Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,
Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh.
Selasa, 22 November 2011
Langit
kau yang meminta aku untuk meninggalkan mu
sebab cinta tlah layu tak ingin lagi menyatu
terdiam aku tak tau mengapa kau merubah
kata itu merobekan hati ku yang rapuh....
kau yang memaksa aku untuk meninggalkan mu
jangan ada yang tau aku pernah memilikimu
terdiam aku tak tau mengapa kau merubah
namun bila lelah hidupmu tak lagi menyanjungmu....
reff:
ku relakan engkau melakukan apa saja yang kau mau
meski berat aku tak percaya melepasmu aku rela.....
pergilah dengan nya mencari langit yan lebih biru.....
langit yang lebih biru
bersamanya.....
bersamanya.......
Pohon & Buahnya
Ada sebatang pohon di depan rumahku, entah apa namanya, mungkin sejenis mangga. Meskipun aku yakin dia pohon buah, dia belum pernah berbuah, tapi berdaun lebat. Aku pernah memaki padanya, "Pohon macam apa kau!? Tak ada buah kauhasilkan bagiku! Kau tahu, setiap sore aku menyiramimu, tapi kau cuma guguran daun yang kau hasilkan, membuatku harus menyapu sepanjang sore! Dasar tak tahu terimakasih!"
Dan demikianlah aku mulai mengabaikan si pohon. Daunnya meranggas karena panas. Berguguran karena mulai lemah dan mati. Mati karena kurangnya air yang menghidupi. Aku tak mempedulikannya, aku melupakannya.
Hari itu matahari menyengat, tetanggaku berkata, "RA" sayang lho pohonnya mati. Kan jadi panas..." Benar juga, kusadari bahwa belakangan halaman rumahku terasa gersang. Tapi apa peduliku? Toh kalau panas ya tinggal masuk rumah.
"RA, pohonnya kok gak ada daunnya lagi to?" kata seorang tukang bakso, "Padahal dulu lebat banget." Batinku, sudah untung aku beli baksomu! Ngapain ngurusin pohon orang!?
Esoknya, sorang pemulung berdiri mematung memandang pohonku. Wajahnya terlihat sedih, entah belum makan atau memang seperti itu sejak lahir. Aku jadi makin heran, kenapa sih banyak orang yang sok peduli pada pohonku? Atau mereka memang peduli? Atau mereka merasa kehilangan?
Malam ini aku bulatkan tekad, aku akan memberi kesempatan sekali lagi pada pohonku. Berbuah atau mati! Maka, akupun kembali menyiramnya setiap sore. Memberi pupuk dan memotong ranting dan daun yang mati, berharap dia dapat pulih kembali, dan berbuah kelak.
Entah berapa lama aku mulai merawat pohon itu lagi. Daunnya yang hijau kembali rimbun. Namun, buah yang aku tunggu itu tak jua muncul. "ASU!!" umpatku. Apa maunya pohon ini!? Aku yakin dia pohon buah, tapi mana buahnya!? Dasar pohon mandul!!
Hari itu matahari sedang birahi, panasnya serasa dapat mematangkan telur di atas aspal. Aku memandang pohonku dari dalam kamarku yang berpendingin. "Akan kubiarkan pohon itu mati mengering," gumamku, "tak sudi aku menyiramnya sore ini!"
Namun, sesaat kemudian tetangaku lewat. Entah mau kemana dia, tapi dia berhenti sejenak di bawah pohonku. Dia mengusap keringatnya, tersenyum tipis, seiring si mas-mas tukang bakso lewat. Dia memarkir gerobaknya di bawah pohonku. Pembicaraan mengalir diantara mas tukang bakso dan tetanggaku, entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas sesaat kemudian mas tukang bakso meracik semangkuk bakso.
Selang beberapa saat, si pemulung yang dulu melintas. Wajahnya sama kumalnya, tapi entah mengapa ia terlihat sedikit gembira. Dia berjalan menuju pohonku, tapi membatalkannya, melihat tetanggaku yang makan bakso. Mungkin dia takut baunya mengganggu.
Ketika si pemulung beranjak, sayup kudengar tetanggaku berteriak memanggilnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Si pemulung terlihat menolak, tetanggaku terlihat memaksa, seiring si mas tukang bakso meracik semangkuk bakso lagi. Dan si pemulungpun luluh dan makan bakso itu dengan lahapnya.
Semua itu terjadi di depan rumahku, terlihat dari jendela kamarku, tepat di bawah pohonku. Seketika aku tersentak... Aku tersadar... Aku menyesal... Lalu bersyukur...
Aku sadar, pohonku telah memberikan yang terbaik dari dirinya, memberikan keteduhan. Meski tidak berbuah bagiku, dia "berbuah" bagi orang lain. Tetanggaku, tukang bakso, pemulung, mereka cuma ingin berteduh. Ketika pada akhirnya mereka terlibat pada suatu rangkaian perbuatan mulia, itu adalah hal lain.
Aku menyesal pernah mengabaikan pohonku. Bahkan aku ingin membiarkannya mati mengering. Aku menyesal tak menghargai kehidupan yang ada.
Aku bersyukur, aku terlibat dalam sebuah rantai kasih antara aku, pohon, tetanggaku, tukang bakso, dan pemulung. Meskipun aku tidak memaksudkannya. Aku hanya merawat pohonku, mencoba menghargai kehidupan, meskipun dengan pamrih. Namun dampaknya membentuk rantai kasih yang luar biasa. Tetanggaku ingin berteduh, dia dihampiri mas tukang bakso yang juga ingin berteduh. Tetanggaku membeli bakso, mas tukang bakso dapat pemasukan. Si pemulung ingin berteduh namun sungkan dan malah ditawari bakso oleh tetanggaku. Ternyata si mas tukang bakso memberi diskon atas baksonya...
Sejenak aku menghela nafas, lalu aku berpikir... Kebaikan adalah sebuah benih yang kita tanam. Benih itu harus dirawat supaya tumbuh dan berbuah. Buah itu terkadang justru lebih bermanfaat bagi orang lain. Tapi aku yakin, aku tetap akan mendapat buah dari pohonku dan dari pohon yang lain karena aku telah merawat pohonku sendiri dan membagi hasilnya dengan orang lain... Yang jelas, buah tidak terikat pada suatu bentuk. Buah itu misterius, namun akan selalu ada dan masak pada waktunya, dikala seseorang membutuhkannya...
Dan demikianlah aku mulai mengabaikan si pohon. Daunnya meranggas karena panas. Berguguran karena mulai lemah dan mati. Mati karena kurangnya air yang menghidupi. Aku tak mempedulikannya, aku melupakannya.
Hari itu matahari menyengat, tetanggaku berkata, "RA" sayang lho pohonnya mati. Kan jadi panas..." Benar juga, kusadari bahwa belakangan halaman rumahku terasa gersang. Tapi apa peduliku? Toh kalau panas ya tinggal masuk rumah.
"RA, pohonnya kok gak ada daunnya lagi to?" kata seorang tukang bakso, "Padahal dulu lebat banget." Batinku, sudah untung aku beli baksomu! Ngapain ngurusin pohon orang!?
Esoknya, sorang pemulung berdiri mematung memandang pohonku. Wajahnya terlihat sedih, entah belum makan atau memang seperti itu sejak lahir. Aku jadi makin heran, kenapa sih banyak orang yang sok peduli pada pohonku? Atau mereka memang peduli? Atau mereka merasa kehilangan?
Malam ini aku bulatkan tekad, aku akan memberi kesempatan sekali lagi pada pohonku. Berbuah atau mati! Maka, akupun kembali menyiramnya setiap sore. Memberi pupuk dan memotong ranting dan daun yang mati, berharap dia dapat pulih kembali, dan berbuah kelak.
Entah berapa lama aku mulai merawat pohon itu lagi. Daunnya yang hijau kembali rimbun. Namun, buah yang aku tunggu itu tak jua muncul. "ASU!!" umpatku. Apa maunya pohon ini!? Aku yakin dia pohon buah, tapi mana buahnya!? Dasar pohon mandul!!
Hari itu matahari sedang birahi, panasnya serasa dapat mematangkan telur di atas aspal. Aku memandang pohonku dari dalam kamarku yang berpendingin. "Akan kubiarkan pohon itu mati mengering," gumamku, "tak sudi aku menyiramnya sore ini!"
Namun, sesaat kemudian tetangaku lewat. Entah mau kemana dia, tapi dia berhenti sejenak di bawah pohonku. Dia mengusap keringatnya, tersenyum tipis, seiring si mas-mas tukang bakso lewat. Dia memarkir gerobaknya di bawah pohonku. Pembicaraan mengalir diantara mas tukang bakso dan tetanggaku, entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas sesaat kemudian mas tukang bakso meracik semangkuk bakso.
Selang beberapa saat, si pemulung yang dulu melintas. Wajahnya sama kumalnya, tapi entah mengapa ia terlihat sedikit gembira. Dia berjalan menuju pohonku, tapi membatalkannya, melihat tetanggaku yang makan bakso. Mungkin dia takut baunya mengganggu.
Ketika si pemulung beranjak, sayup kudengar tetanggaku berteriak memanggilnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Si pemulung terlihat menolak, tetanggaku terlihat memaksa, seiring si mas tukang bakso meracik semangkuk bakso lagi. Dan si pemulungpun luluh dan makan bakso itu dengan lahapnya.
Semua itu terjadi di depan rumahku, terlihat dari jendela kamarku, tepat di bawah pohonku. Seketika aku tersentak... Aku tersadar... Aku menyesal... Lalu bersyukur...
Aku sadar, pohonku telah memberikan yang terbaik dari dirinya, memberikan keteduhan. Meski tidak berbuah bagiku, dia "berbuah" bagi orang lain. Tetanggaku, tukang bakso, pemulung, mereka cuma ingin berteduh. Ketika pada akhirnya mereka terlibat pada suatu rangkaian perbuatan mulia, itu adalah hal lain.
Aku menyesal pernah mengabaikan pohonku. Bahkan aku ingin membiarkannya mati mengering. Aku menyesal tak menghargai kehidupan yang ada.
Aku bersyukur, aku terlibat dalam sebuah rantai kasih antara aku, pohon, tetanggaku, tukang bakso, dan pemulung. Meskipun aku tidak memaksudkannya. Aku hanya merawat pohonku, mencoba menghargai kehidupan, meskipun dengan pamrih. Namun dampaknya membentuk rantai kasih yang luar biasa. Tetanggaku ingin berteduh, dia dihampiri mas tukang bakso yang juga ingin berteduh. Tetanggaku membeli bakso, mas tukang bakso dapat pemasukan. Si pemulung ingin berteduh namun sungkan dan malah ditawari bakso oleh tetanggaku. Ternyata si mas tukang bakso memberi diskon atas baksonya...
Sejenak aku menghela nafas, lalu aku berpikir... Kebaikan adalah sebuah benih yang kita tanam. Benih itu harus dirawat supaya tumbuh dan berbuah. Buah itu terkadang justru lebih bermanfaat bagi orang lain. Tapi aku yakin, aku tetap akan mendapat buah dari pohonku dan dari pohon yang lain karena aku telah merawat pohonku sendiri dan membagi hasilnya dengan orang lain... Yang jelas, buah tidak terikat pada suatu bentuk. Buah itu misterius, namun akan selalu ada dan masak pada waktunya, dikala seseorang membutuhkannya...
Langganan:
Postingan (Atom)









