Selasa, 22 November 2011

Pohon & Buahnya

Ada sebatang pohon di depan rumahku, entah apa namanya, mungkin sejenis mangga. Meskipun aku yakin dia pohon buah, dia belum pernah berbuah, tapi berdaun lebat. Aku pernah memaki padanya, "Pohon macam apa kau!? Tak ada buah kauhasilkan bagiku! Kau tahu, setiap sore aku menyiramimu, tapi kau cuma guguran daun yang kau hasilkan, membuatku harus menyapu sepanjang sore! Dasar tak tahu terimakasih!"
Dan demikianlah aku mulai mengabaikan si pohon. Daunnya meranggas karena panas. Berguguran karena mulai lemah dan mati. Mati karena kurangnya air yang menghidupi. Aku tak mempedulikannya, aku melupakannya.
Hari itu matahari menyengat, tetanggaku berkata, "RA" sayang lho pohonnya mati. Kan jadi panas..." Benar juga, kusadari bahwa belakangan halaman rumahku terasa gersang. Tapi apa peduliku? Toh kalau panas ya tinggal masuk rumah.
"RA, pohonnya kok gak ada daunnya lagi to?" kata seorang tukang bakso, "Padahal dulu lebat banget." Batinku, sudah untung aku beli baksomu! Ngapain ngurusin pohon orang!?
Esoknya, sorang pemulung berdiri mematung memandang pohonku. Wajahnya terlihat sedih, entah belum makan atau memang seperti itu sejak lahir. Aku jadi makin heran, kenapa sih banyak orang yang sok peduli pada pohonku? Atau mereka memang peduli? Atau mereka merasa kehilangan?
Malam ini aku bulatkan tekad, aku akan memberi kesempatan sekali lagi pada pohonku. Berbuah atau mati! Maka, akupun kembali menyiramnya setiap sore. Memberi pupuk dan memotong ranting dan daun yang mati, berharap dia dapat pulih kembali, dan berbuah kelak.
Entah berapa lama aku mulai merawat pohon itu lagi. Daunnya yang hijau kembali rimbun. Namun, buah yang aku tunggu itu tak jua muncul. "ASU!!" umpatku. Apa maunya pohon ini!? Aku yakin dia pohon buah, tapi mana buahnya!? Dasar pohon mandul!!
Hari itu matahari sedang birahi, panasnya serasa dapat mematangkan telur di atas aspal. Aku memandang pohonku dari dalam kamarku yang berpendingin. "Akan kubiarkan pohon itu mati mengering," gumamku, "tak sudi aku menyiramnya sore ini!"
Namun, sesaat kemudian tetangaku lewat. Entah mau kemana dia, tapi dia berhenti sejenak di bawah pohonku. Dia mengusap keringatnya, tersenyum tipis, seiring si mas-mas tukang bakso lewat. Dia memarkir gerobaknya di bawah pohonku. Pembicaraan mengalir diantara mas tukang bakso dan tetanggaku, entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas sesaat kemudian mas tukang bakso meracik semangkuk bakso.
Selang beberapa saat, si pemulung yang dulu melintas. Wajahnya sama kumalnya, tapi entah mengapa ia terlihat sedikit gembira. Dia berjalan menuju pohonku, tapi membatalkannya, melihat tetanggaku yang makan bakso. Mungkin dia takut baunya mengganggu.
Ketika si pemulung beranjak, sayup kudengar tetanggaku berteriak memanggilnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Si pemulung terlihat menolak, tetanggaku terlihat memaksa, seiring si mas tukang bakso meracik semangkuk bakso lagi. Dan si pemulungpun luluh dan makan bakso itu dengan lahapnya.
Semua itu terjadi di depan rumahku, terlihat dari jendela kamarku, tepat di bawah pohonku. Seketika aku tersentak... Aku tersadar... Aku menyesal... Lalu bersyukur...
Aku sadar, pohonku telah memberikan yang terbaik dari dirinya, memberikan keteduhan. Meski tidak berbuah bagiku, dia "berbuah" bagi orang lain. Tetanggaku, tukang bakso, pemulung, mereka cuma ingin berteduh. Ketika pada akhirnya mereka terlibat pada suatu rangkaian perbuatan mulia, itu adalah hal lain.
Aku menyesal pernah mengabaikan pohonku. Bahkan aku ingin membiarkannya mati mengering. Aku menyesal tak menghargai kehidupan yang ada.
Aku bersyukur, aku terlibat dalam sebuah rantai kasih antara aku, pohon, tetanggaku, tukang bakso, dan pemulung. Meskipun aku tidak memaksudkannya. Aku hanya merawat pohonku, mencoba menghargai kehidupan, meskipun dengan pamrih. Namun dampaknya membentuk rantai kasih yang luar biasa. Tetanggaku ingin berteduh, dia dihampiri mas tukang bakso yang juga ingin berteduh. Tetanggaku membeli bakso, mas tukang bakso dapat pemasukan. Si pemulung ingin berteduh namun sungkan dan malah ditawari bakso oleh tetanggaku. Ternyata si mas tukang bakso memberi diskon atas baksonya...
Sejenak aku menghela nafas, lalu aku berpikir... Kebaikan adalah sebuah benih yang kita tanam. Benih itu harus dirawat supaya tumbuh dan berbuah. Buah itu terkadang justru lebih bermanfaat bagi orang lain. Tapi aku yakin, aku tetap akan mendapat buah dari pohonku dan dari pohon yang lain karena aku telah merawat pohonku sendiri dan membagi hasilnya dengan orang lain... Yang jelas, buah tidak terikat pada suatu bentuk. Buah itu misterius, namun akan selalu ada dan masak pada waktunya, dikala seseorang membutuhkannya...

Kamis, 06 Oktober 2011

RESTUMU IBU

Ibu hanyalah restumu ibu
Yang selalu menyertai aku
Ku bersujud di kakimu di saat ku terjatuh
Akan semua kekhilafanku

Ibu hanyalah doamu ibu
Yang selalu menemaniku
Mengiringi jalan hidupku
Jika ku mulai terjatuh lagi
Waktu ku terbuai dalam khilafku

Terima kasih ibu
Atas semua kasih sayangmu
Yang takkan pernah pudar
Hingga akhir hayatku

Hanya doamu ibu
Yang selalu mengiringi langkahku
Sejak ku dilahirkan
Hingga ajal datang menjemputku


kembalilah

ku masih di sini menunggu dirimu
sampai kau kembali
bertahan tetap berdiri
masih di sini tersiksa sendiri
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
sayang adakah cintamu
untuk diriku bertahan lagi
ku ingin inginkan hatimu
harapkan cintamu seperti dulu

kini kau pergi tinggalkan aku
jauh dari cintaku
sayang dimana dirimu
kembalilah aku menunggumungkin kini kau tlah melupakanku
di sini ku setia menunggumu




http://www.4shared.com/audio/5faTFBrV/al-tha_band_-_kembalilah.html


Sabtu, 01 Oktober 2011

Because I’m a fool




























Subhanallaah... BERKUMPULNYA SUNGAI & LAUT

Maha Suci Allah Yang Menciptakan Sungai Dalam Laut.
Jakarta, 8 Maret 2010


Bismillaahir rohmanir rohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.


Saudara-saudariku tercinta rahiimakumullah...

Sungguh Jean merinding luar biasa ketika menyaksikan salah satu hasil Ciptaan Allah ta'ala, yakni BERKUMPULNYA SUNGAI & LAUT, subhanallah...

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : "Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqan:53).


Saudara-saudari kami yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala...

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ tentu kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.




Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” artinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Your Guardian Angel

When I see your smile
Tears run down my face I can't replace
And now that I'm strong I have figured out
How this world turns cold and it breaks through my soul
And I know I'll find deep inside me I can be the one

I will never let you fall
I'll stand up with you forever
I'll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

It's okay. It's okay. It's okay.
Seasons are changing
And waves are crashing
And stars are falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I'll be the one

I will never let you fall (let you fall)
I'll stand up with you forever
I'll be there for you through it all (through it all)
Even if saving you sends me to heaven

Cuz you're my, you're my, my, my true love, my whole heart
Please don't throw that away
Cuz I'm here for you
Please don't walk away and
Please tell me you'll stay, stay

Use me as you will
Pull my strings just for a thrill
And I know I'll be okay
Though my skies are turning gray

I will never let you fall
I'll stand up with you forever
I'll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

Cinta

>Buatlah dirimu :
Berharga di depan 1 Cinta
Dengan mengabdi pada 1 hati saja...
Setia pada 1 nama...
Nama yg membuat kamu bahagia
Dan 1 nama yg mampu mengisi CINTA DALAM HATIMU...


*******cinta*******


>Ketika Kamu Mencintai Seseorang dengan "IKHLAS"
Maka.....
Kekurangan pada dirinya,
Akan menjadi Sebuah Kelebihan,
yang bisa menguatkanmu..
Dan....
Kekuatan itu akan Menjadi Kesempurnaan yang Abadi
Jika dlandasi Rasa Kerelaan Dari Dasar Hatimu.